MODERENISASI
KAIN SONGKET
Alifurrohman (30417523), kelas 1
ID01, Program Studi Teknik Industri, fakultas Teknologi Industri, Universitas
Gunadarma, Depok
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki budaya
yang beraneka ragam, keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaan merupakan ciri
khas dan menjadi identitas khusus bagi setiap masyarakat yang merupakan
kebanggaan yang perlu dilestarikan dalam pengembangan kebudayaan daerah yang
memberikan corak dan ragamnya yang heterogen dalam kebudayaan nasional sebagai
suatu negara yang berbudaya.
Menurut Daldjoeni (1982:11) bentang alam budaya itu
merupakan berbagai bentuk kongkrit dari adaptasi manusia terhadap lingkungan
alamnya. Ragam budayanya seperti kesenian berupa tenunan, tarian, musik, dan
sebagainya yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
Kebudayaan menenun songket merupakan salah satu aset
budaya yang sangat berharga. Menenun songket merupakan tradisi yang dilakukan
oleh masyarakat, namun sekarang tradisi ini hanya dilakukan beberapa kelompok
masyarakat saja. Misalnya di Desa Batubara. Budaya menenun songket merupakan
bagian dari tradisi di desa ini, hal ini dilakukan sampai saat ini walaupun
terdapat bagian-bagian yang berubah atau tidak tetap namun patut dilestarikan.
Songket yang merupakan salah satu pakaian yang dikenakan oleh manusia
merupakan salah satu karya seni yang indah, karena fungsinya tidak hanya
bersifat sebagai pelindung, dekorasi, melainkan untuk menonjolkan suatu tujuan
dengan daya tariknya (Kartiwa, 1986:4). Salah satu fungsi pakaian yakni untuk
menonjolkan dayatariknya, maka dalam hal ini dapat dilihat pada kemewahan dan
kilauan songket dari warna warni benang yang
digunakan baik itu dengan benang emas maupun dengan benang-benang hasil celupan
pewarnaan dari keahlian para penenunnya. Proses inilah yang membuat pembuatan
kain songket membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Lamanya pembuatann kain songket dapat diatas dengan
menggunakan teknik devore, teknik ini
dapat memangkas waktu pembuatan kain songket yang membutuhkan waktu
berbulan-bulan untuk emmbuat kain songket. Sayangnya teknik devore masih jarang digunakan di
Indonesia.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini. Beberapa masalah tersebut adalah :
- Bagaimana perkembangan kain songket?
- Bagaimana proses pembuatan kain
songket tradisional?
- Bagaimana proses pembuatan kain
songket dengan teknik devore?
1.3. TUJUAN
PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dalam
penulisan ini sebagai berikut:
- Untuk mengetahui perkembangan kain
songket
- Untuk mengetahui proses pembuatan kain
songket tradisional
- Untuk mengetahui proses pembuatan kain
songket dengan teknik devore
BAB 2 PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN KAIN SONGKET
Songket adalah salah satu kreasi tenun yang
banyak dihasilkan di berbagai daerah terutama di Indonesia. Proses dalam
menghasilkan sebuah tenunan songket tidaklah mudah, melainkan suatu proses yang
rumit, teliti dan membutuhkan waktu yang cukup lama, oleh karenanya dibutuhkan
ketelitian serta ketekunan seperti yang diungkapkan oleh Bart dalam Revitalisasi Songket Lama Minangkabau (2006:17). Sejarah tenun di Indonesia menurut
Murnayati (1991:7), terdapat beberapa pendapat, pertama yakni menurut Effendi,
dikatakan bahwa para antropolog sebelumnya telah memperkirakan bahwa Kebudayaan
menenun berasal dari Mesopotamia dan Mesir, kemudian disebarkan ke Eropa dan
Asia termasuk di dalamnya Indonesia (1988:1).
Pendapat kedua menurut ahli sejarah Robyn dan John Maxweel mengatakan
bahwa tradisi
tenun songket dan sutera dibawa oleh para pedagang Islam yang berasal
dari Arab dan India yang menguasai perdagangan di Asia Tenggara, kegiatan
berdagang dilakukan sambil menyebarkan agama Islam yang dilakukan pada saat
perjalanan dari Selat Malaka menuju
pelabuhan-pelabuhan Sumatera dan Pantai Utara Jawa (Kartiwa, 1986:5).
Pendapat ke tiga, dikatakan bahwa tenunan berasal dari daerah penghasil
kerajinan yang membuat motif-motif tersebut dari kebiasaan hidup sehari-hari
dimana songket itu tumbuh dan berkembang (Kartiwa, 1982:12). Oleh karena itu di
masing-masing daerah penghasil tenun itu terdapat nama-nama khas dari kain
tenun yang dihasilkan.
Salah satunya seperti yang ditulis oleh Ernatip (2009:16) di daerah
Palembang kata songket berasal dari kata disongsong dan diteket. Kata teket itu sendiri
dalam bahasa Palembang lama berarti sulam. Pendapat lain mengatakan bahwa kata
songket berasal dari songko yang berarti kain penutup
kepala yang dihias benang emas. Benang emas yang dipakai pada hiasan kepala itu
juga dipakai pada kain tenun.
Banyak istilah lain dari kain songket yang sesuai dengan nama asal
daerahnya antara lain Daerah Istimewa Aceh disebut Ija kasap, di Sulawesi
Tengah subi kumbaja atau subi sabe, di Sumbawa
disebut selungkang. Di dalam penggunaan istilah songket ini banyak
dirinci macam-macam bentuk desain yang tampak menurut teknik pembuatannya.
Proses pembuatan
Kerajinan kain
songket pada masa dahulu dikerjakan dengan caara tradisional. Cara yang
digunakan dalam mengerjakan adalah dengan menggunakan tenaga manusia. Salah
satu contoh dari kain songket adalah kain songket batubara. Kerajinan kain songket
batubara sejak dahulu dikerjakan dengan metode yang sangat sederhana dan
keadaan ini berlangsung hingga saat ini. Bila dibandingkan dengan pembuatan kain dengan
menggunakan teknologi maju, pembuatan kain songket batubara masih menggunakan
alat-alat produksi dan prosesnya masih sederhana.
Kegiatan kerajinan kain
songket Batubara dilaksanakan melalui tahapan-tahapan, seperti: tahapan
persiapan, tahapan pembuatan dan tahap akhir. Tahap persiapan meliputi
persiapan bahan baku, mencelup atau mencolup, menjemur atau menjomur dan
mengani. Tahap pembuatan meliputi proses
menenun atau menonun dan pembuatan motif atau menoto, sedangkan tahap akhir
adalah proses mengeluarkan kain yang telah selesai ditenun dari alat tenun.
Berikut ini akan diuraikan satu persatu secara rinci:
a. Tahap persiapan
1. Mencelup
Langkah paling awal
mempersiapkan bahan baku (benang) dan cairan pencelup warna benang. Sebelumnya
benang yang akan
digunakan dibersihkan terlebih dahulu supaya noda yang melekat pada benang
hilang. Bahan yang digunakan dalam proses mencelup ini ialah satu botol kecil
zat pewarna, bambu pengaduk dan ember besar tempat pencelupan.
Caranya adalah : setelah
air dicampur dengan zat pewarna, kemudian diaduk hingga rata dalam ember besar.
Setelah dirasakan cukup rata, maka benang tadi dinasukkan. Kemudian dicelupkan
secara berulang-ulang seperti mencuci kain. Selanjutnya benang diangkat dan
diperas, kemudian dijemur pada sinar matahari.
2. Menjomur
Tahapan selanjutnya adalah
benang yang sudah dicelupkan dijemur pada sinar matahari. Lamanya waktu
menjemur tergantung pada sinar matahari. Apabila sinar matahari terik, maka proses
penjemuran akan berlangsung singkat jika matahari terik dan bila musim hujan
proses penjemuran memakan waktu yang lama. Itulah sebabnya, sebelum musim hujan para pengrajin sudah
harus mempersiapkan bahan bakunya, sehingga ketika musim hujan berlangsung,
aktivitas bertenun tidak terkendala.
3. Mengani
Mengani adalah proses
menggulung benang pada papan penggulung dengan menggunakan wing. Selanjutnya
benang-benang yang sudah di gulung
dipindahkan pada kerek-kerek anian, yaitu alat untuk meletakkan benang yang
akan segera disusun. Dari karek-karekanian, benang dipindahkan ke dalam torak, yakni tempat memasukkan benang yang
akan ditenun.
b. Menenun
1. menonun
Kegiatan menenun tahapan
ini untuk dapat menghasilkan lembaran
kain tenun. Setelah benang dimasukkan ke dalam torak, selanjutnya benang
tersebut ditarik ke dalam polonting dengan
menggunakan sisir. Dari sini benang tersebut dirapatkan menggunakan gorup,
kemudian benang tersebut diturun-naikkan menggunakan karap dan lonting hingga
menjadi selembaran kain yang diinginkan si pengrajin.
2. Menoto
Menoto adalah memberi ragam hias yang direncanakan
oleh pengrajin. Ragam hias kain tenun terdiri dari berbagai jenis seperti :
pucuk caul, Pucuk pandan, pahat mawar, tabur tampuk berombang, dan sebagainya.
proses menoto adalah sebagai berikut: benang perak, benang emas atau benang lainnya
sebagai bahan baku membuat ragam hias, diletakkan dalam suatu tempat bernama
cuban. Kemudian, benang tersebut disungkit, penyungkitan dilakukan ketika
barang lungsing direntang-rentangkan rata. Benang yang akan diangkat atau di tarik diberi sisipan lidi. Sisipan lidi ini
berfungsi sebagai tanda yang akan di sisipi benang, sehingga sewaktu bertenun
terhindar dari kesalahan.
Jumlah lidi yang disisipkan (sungkitkan) tergantung
pada ragam hias yang akan dibuat. Semakin rumit ragam hias yang hendak dibuat,
semakin banyak pula lidi-lidi yang akan digunakan.
c. Tahap Akhir
setelah pekerjaan bertenun selesai dilakukan, maka
sebagai tahapan akhir ialah mengeluarkan lembaran kain yang telah selesai
ditenun. Caranya adalah : lembaran kain yang telah selesai ditenun, ditegangkan
dengan menggunakan sumbi. Kemudian setelah kain tersebut dianggap tegang (
tidak kusut ) lalu dikeluarkan dengan menggunakan
poso.
Peralatan
Peralatan yang digunakan oleh pengrajin kain songket
Batubara dinamakan gedogan atau sering juga disebut rumah tonun. Alat tenun ini
terbuat dari kayu, yang bentuknya sederhana, tetapi proses kerjanya relatif
rumit.
Peralatan tenun tradisional kain songket batubara,
terdiri dari:
- Wing dan rahat
Wing adalah alat
pennggulung benang. Bentuknya bulat seperti lingkaran terbuat dari papan yang
diameternya kira-kira 10 cm digunakan untuk menggulung benang. Sedangkan rahat
adalah alat penggulung benang setelah selesai dijemur sehingga benang-benang
tersebut tergulung seperti bola.
- Anian
Anian adalah
sejenis peralatan tenun yang terbuat dari kayu sebagai pemindangan tempat
mengatur, menyusun, dan tempat memasang lungsin (bujur-bujur benang pada
tenunan). Anian juga dapat disebut sebagai bingkai yang dapat diatur posisi dan
dudukannya sesuai dengan ukuran yang dikehendaki pada benang-benang yang akan
ditenun
- Papan penggulung
Adalah alat dan
tempat merentangkan benang yang akan ditenun. Rentangan benang yang akan
ditenun melekat pada papan penggulung ini dan sekaligus juga berfungsi untuk memisahkan
benang lungsi atas dengan benang lungsi bawah.
- Polonting
Polonting terbuat
dari sepotong bambu bulat yang berfungsi sebagai gulungan benang, supaya mudah
dilemparkan ke kiri atau ke kanan sewaktu menenun.
- Torak
Torak
terbuat dari bambu atau pipa plastik, yang digunakan sebagai tempat dari
polonting, sehingga waktu dilemparkan benang tidak kusut dan tidak mengganggu
bennag lungsing.
- Belero
Belero adalah
alat untun memudahkan si pengrajin membuat motif atau ragam hias dari benang
lungsi atau dasar kain tenun. Belero dibuat dari sepotong kayu yang kedua
ujungnya lebih kecil dari bagian tengahnya dan tumpul.
- Sisir
Sisir adalah alat
bantu rentangan benang yang akan ditenun setiap celah jari sisir dilewati oleh
helai benang, sehingga bujuran benang menjadi rata dan teratur.
- Gorup
Gorup adalah
tempat sisir yang berfungsi merapatkan benang yang ditenun. Gorup terdiri dari
dua keping kayu, yang bagian atas lebih lebar dari bagian bawahnya dan
bentuknya seperti berlidah-lidah.
- Karap
Fungsinya hampir
sama dengan sisir pemisah benang atas dan benang bawah. Karap ini ada du
apasang, masing-masing dapat diturun naikan untuk membuka jalan polonting
memasukan benang pakan.
- Kuda-kuda
Kuda-kuda adalah
alat untuk menggantukan karap. Kuda-kuda ini terdiri dari sepotong kayu
berbentuk pipa, masing-masing ujungnya diikatkan pada karap, sementara bagian
tengahnya dihubungkan dengan tali.
- Lonting (injak-injakan)
Lonting atau
injak-injakan adalah alat untuk menurun-naikan karap. Lonting terdiri dari dua
batang beroti yang berukuran 3 x 4 cm dengan panjang satu memeter. Beroti
dihubungkan dengan karap sehingga ketika beroti diinjak karap akan naik begitu
pula sebaliknya.
- Lompu/caca
Lompu atau caca
adalah alat untuk menggantungkan papan penggulung. Lompi terbuat dari papan
yang dilubangi sedemikian rupa sehingga papan penggulung bisa masuk.
- Poso
Poso adalah alat
untuk menggulung kain yang sudah selesai ditenun. Poso ini terdiri dari sebuah
kayu balok yang menjadi tambatan kain yang sudah ditenun dan juga sebagai
permulaan bennag yang akan ditenun.
- Sumbi
Sumbi adalah alat
untuk menegangkan kain tenunan yang telah selesai ditenun. Dalam proses
penggunaannya, ujung sumbi yang runcing tersebut ditusukan pada pinggir kain
tenun, selanjutnya direntangkan.
- Anak kayu
Anak kayu adalah
alat untuk penjepit benang yang terdapat pada papan penggulung dengan lompo.
- Anak geligin
Adalah gulungan
benang yang digunakan sebagai penyusun silangan benang.
- Balobas
Balobas adalah
alat bantu dalam penyusunan motif atau ragam hias sewaktu bertenun. Fungsinya
adalah mengangkat benang bawah ke atas dan sebaliknya, sehingga dapat
diselipkan benang yang dijadikan motif.
- Cuban
Cuban adalah
gulungan benang yang akan dijadikan bahan baku motif tenun batik.
Teknik Devore
Teknik devore yaitu teknik “membakar atau memakan“ serat selulosa pada kain. Sedangkan foiling
yaitu teknik memindahkan warna dari foil transfer
paper pada kain dengan menggunakan trans
ink dan heat press. teknik ini
dapat memangkas waktu sehingga pembuatan kain songket tidak memakan waktu yang
lama. Selain itu, teknik ini juga tidak terpengaruh oleh keadaan cuaca di
Indonesia. Untuk
mengaplikasikan teknik devore sebaiknya digunakan kain yang memiliki
serat yang tebal dan kuat. Hal ini dikarenakan bagian yang terbakar akan
menjadi rapuh karena strukturnya rusak. Oleh karena itu, lebih baik lagi
menggunakan kain pile warp (pakan
bertumpuk/pakan ganda) yang tenunnya dasarnya terbuat dari bahan protein dan
sintesis, sehingga bagian yang tercabut hanya bagian tambahannya saja contoh
kain yang memenuhi kriteria yaitu kain velvet.
Dalam mengerjakan teknik ini pada kain velvet,
sebaiknya bagian yang diprint bagian belakangnya. Aplikasi pasta drove pada bagian depan kain
mengakibatkan mengakibatkan mootif kain yang dihasilkan tidak merata karena
struktur berudu pada kain. Proses heat
press sebaiknya tidak menggunakan
strika karena akan menghasilkan motif yang kurang bagus jika sudah jadi, maka dari itu lebih baik menggunakan heat
press.
Proses heat
press bisa saja kurang merata karena suhu mesin yang tidak merata. Hal ini
terlihat pada saat bila saat pencucian dengan air yang mengalir, terdapat
bagian motif devore yang
terlepas dan tidak. Apabila terjadi hal demikian, maka pada saat proses
pencucian kain perlu di gosok
lebih keras sehingga bagia berudu tercabut. Namun, penggosokan yang terlalu
keras dapat merobek kain tenun dasarnya. Oleh karena itu, proses ini harus
dilakukan dengan hati-hati.
Pada proses pewarnaan lebih baik dilakukan setelah
proses devore selesai. Hal ini
dikarenakan proses devore harus melalui
tahap pencucian. Apabila proses devore dilakukan setelah proses pewarnaan, ada
kemungkinan warna akan luntur karena proses pencucian yang dilakukan berulang
kali.
Adapun proses produksi teknik ini adalah sebagai
berikut:
- Langkah pertama menyiapkan alat dan
bahan. Karya ini dibuat dalam bentuk kain berukuran kurang lebih 180 x 60
cm (ukuran kain dapat disesuaikan sesuai ukuran yang ingin dibuat). Untuk
itu, diperlukan screen yang
cukup besar supaya pekerjaan dapat dilakukan dengan efisien.
- Selanjutnya, motif dicetak dengan
teknik screen printing pada
bagian belakang kain. Setelah kering, dilakukan proses heat press dengan suhu 160ᴼ selama 10
detik.
- Setelah itu, kain dicuci dengan tangan
supaya beludru pada kain terlepas hingga membentuk motif yang diinginkan.
Dalam proses pencucian disarankan menggunakan sarung tangan karet supaya
tidak terjadi iritasi.
- Setelah mendapatkan motif yang sesuai,
kain diwarnai dengan pewarna procion.
Kain dapat diwarnai dengan teknik celup maupun teknik usap menggunakan
spons.
- Setelah kain kering, dilakukan proses foiling, yaitu dengan membubuhkan transfer ink pada bagian kain yang
diinginkan menggunakan kuas. Setelah mengering, foil transfer paper diletakkan pada bagian tersebut dengan
bagian berwarna pada bagian atas, dan lakukan proses heat press menggunakan heat
press dengan suhu 160ᴼ selama 10 detik.
Kelebihan dan kelemahan
pembuatan dengan alat tradisional
Kelebihan :
- Motif yang dihasilkan dapat
berbeda-beda.
Hal ini disebabkan setiap pengrajin kain songket mempunyai motifnya
tersendiri.
- Tidak mencemari lingkungan. Karena,
proses pewarnaan yang dilakukan masih menggunakan bahan-bahan yang
tersedia dialam.
Kekurangan :
- Proses pembuatan membutuhkan waktu
yang lama. Hal
ini disebabkan lamanya menunggu pengeringan pada proses pewarnaan,
penggulungan benang dan yang lainnya.
- Harga kain songket yang relatif mahal. Hal ini disebabkan karena
untuk mengganti biaya waktu yang dikeluarkan pengrajin, dan juga proses
kerumitan kain songket.
- Kain yang dihasilkan cenderung berat
dan kaku.
Karena kain yang digunakan memiliki karakteristik yang berat dan kaku.
Kelebihan dan kelemahan
pembuatan dengan teknik devore
Kelebihan:
- Proses pembuatan lebih cepat. Karena tidak memerlukan
proses menenun terlebih dahulu dan langsung menuju proses pencetakan dan
proses pewarnaan.
- Kain yang dihasilkan cenderung lebih
ringan. Hal ini
disebabkan karakteristik kain velvet yang digunakan memiliki karakteristik
yang kuat namun ringan saat dipakai.
- Tidak terpengaruh oleh musim. Karena pada saat proses pengeringan
dapat dilakukan dengan membeli warna kain yang sudah diinginkan.
Kelemahan:
- Dapat mencemari lingkungan, Karena hasil dari limbah pewarnaan.
- Harus memiliki modal yang lebih besar.
Karena harus membeli peralatan yang dibutuhkan seperti mesin heat press,
printing dan yang lainnya.
BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan
Dari paparan diatas , maka
penulis dapat menyimpulkan bahwa sesuai dengan makalah “Moderenisasi Kain
Songket” penulis menyimpulkan bahwa teknik devore sangat cocok untuk diterapkan
dalam pembuatan kain songket. Hal ini karena teknik devore dapat mempersingkat
waktu pembuatan kain songket yang tadinya berbulan-bulan sekarang hanya
membutuhkan waktu tidak lebih dari satu bulan saja. Selain itu penggunaan
teknik devore juga dapat memproduksi kain songket secara massal. Sehingga dapat
mencakup pasar global untuk bersaing dipasaran yang tadinya hanya mengandalkan
pasar lokal saja. Dan yang terakhir penggunaan teknik devore pada kain velvet
dapat menghasilkan kain yang memiliki tekstur yang lembut, ringan, dan tetap
memancarkan kesan mewah pada kain songket.
Saran
Berdasarkan Pembahasan dan Kesimpulan tersebut, maka
di sini penulis ingin menyampaikan beberapa saran. Pertama, perlunya
sosialisasi penggunaan teknik devore kepada pengrajin sehingga para pengrajin
dapat menhemat waktu pembuatan kain songket. Kedua, perlunya pemberian modal
kepada pengrajin untuk membeli alat-alat seperti heat press, digital printing
dan alat yang lainnya. Dan yang terakhir yaitu mendukung pengrajin dengan cara
membuka peluang pasar baik itu pasar lokal maupun pasar global.
Daftar pustaka
DRS. Irwansyah, DRS. Tanjung Syaiful A, DRS.
Simanjutak J, DRS. Rahman Abdul, DRS. Lubis Syahrudin,
DRS. Siagian Wilson. 1992. Kerajinan
Tradisional Kain Songket Batubara. Sumatera Utara: Debdikbud.
Kartiwa Suwati. 1996. Kain
Songket Indonesia. Jakarta : Djambatan.
Putra Herry Rizki Muhammad. Aplikasi Motif Songket
Dengan Teknik Devore Untuk Produk Tekstil. Bandung : Jurnal Senirupa dan
Desain.
Devi Silvia. 2015.
Sejarah dan Nilai Songket Pandai Sikek. Sumatera Barat: Jurnal
Ilmu Sosial.
Komentar
Posting Komentar