Langsung ke konten utama
MODERENISASI KAIN SONGKET
Alifurrohman (30417523), kelas 1 ID01, Program Studi Teknik Industri, fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, Depok

 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki budaya yang beraneka ragam, keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaan merupakan ciri khas dan menjadi identitas khusus bagi setiap masyarakat yang merupakan kebanggaan yang perlu dilestarikan dalam pengembangan kebudayaan daerah yang memberikan corak dan ragamnya yang heterogen dalam kebudayaan nasional sebagai suatu negara yang berbudaya.
Menurut Daldjoeni (1982:11) bentang alam budaya itu merupakan berbagai bentuk kongkrit dari adaptasi manusia terhadap lingkungan alamnya. Ragam budayanya seperti kesenian berupa tenunan, tarian, musik, dan sebagainya yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
Kebudayaan menenun songket merupakan salah satu aset budaya yang sangat berharga. Menenun songket merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat, namun sekarang tradisi ini hanya dilakukan beberapa kelompok masyarakat saja. Misalnya di Desa Batubara. Budaya menenun songket merupakan bagian dari tradisi di desa ini, hal ini dilakukan sampai saat ini walaupun terdapat bagian-bagian yang berubah atau tidak tetap namun patut dilestarikan.
Songket yang merupakan salah satu pakaian yang dikenakan oleh manusia merupakan salah satu karya seni yang indah, karena fungsinya tidak hanya bersifat sebagai pelindung, dekorasi, melainkan untuk menonjolkan suatu tujuan dengan daya tariknya (Kartiwa, 1986:4). Salah satu fungsi pakaian yakni untuk menonjolkan dayatariknya, maka dalam hal ini dapat dilihat pada kemewahan dan kilauan songket dari warna warni benang yang digunakan baik itu dengan benang emas maupun dengan benang-benang hasil celupan pewarnaan dari keahlian para penenunnya. Proses inilah yang membuat pembuatan kain songket membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Lamanya pembuatann kain songket dapat diatas dengan menggunakan teknik devore, teknik ini dapat memangkas waktu pembuatan kain songket yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk emmbuat kain songket. Sayangnya teknik devore masih jarang digunakan di Indonesia.

1.2. RUMUSAN MASALAH
Penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini. Beberapa masalah tersebut adalah :
  1. Bagaimana perkembangan  kain songket?
  2. Bagaimana proses pembuatan kain songket tradisional?
  3. Bagaimana proses pembuatan kain songket dengan teknik devore?
1.3.  TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dalam penulisan ini sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui perkembangan kain songket
  2. Untuk mengetahui proses pembuatan kain songket tradisional
  3. Untuk mengetahui proses pembuatan kain songket dengan teknik devore

BAB 2 PEMBAHASAN

PERKEMBANGAN KAIN SONGKET
Songket adalah salah satu kreasi tenun yang banyak dihasilkan di berbagai daerah terutama di Indonesia. Proses dalam menghasilkan sebuah tenunan songket tidaklah mudah, melainkan suatu proses yang rumit, teliti dan membutuhkan waktu yang cukup lama, oleh karenanya dibutuhkan ketelitian serta ketekunan seperti yang diungkapkan oleh Bart dalam Revitalisasi Songket Lama Minangkabau (2006:17). Sejarah tenun di Indonesia menurut Murnayati (1991:7), terdapat beberapa pendapat, pertama yakni menurut Effendi, dikatakan bahwa para antropolog sebelumnya telah memperkirakan bahwa Kebudayaan menenun berasal dari Mesopotamia dan Mesir, kemudian disebarkan ke Eropa dan Asia termasuk di dalamnya Indonesia (1988:1).
Pendapat kedua menurut ahli sejarah Robyn dan John Maxweel mengatakan bahwa tradisi
tenun songket dan sutera dibawa oleh para pedagang Islam yang berasal dari Arab dan India yang menguasai perdagangan di Asia Tenggara, kegiatan berdagang dilakukan sambil menyebarkan agama Islam yang dilakukan pada saat perjalanan dari Selat Malaka menuju
pelabuhan-pelabuhan Sumatera dan Pantai Utara Jawa (Kartiwa, 1986:5). Pendapat ke tiga, dikatakan bahwa tenunan berasal dari daerah penghasil kerajinan yang membuat motif-motif tersebut dari kebiasaan hidup sehari-hari dimana songket itu tumbuh dan berkembang (Kartiwa, 1982:12). Oleh karena itu di masing-masing daerah penghasil tenun itu terdapat nama-nama khas dari kain tenun yang dihasilkan.
Salah satunya seperti yang ditulis oleh Ernatip (2009:16) di daerah Palembang kata songket berasal dari kata disongsong dan diteket. Kata teket itu sendiri dalam bahasa Palembang lama berarti sulam. Pendapat lain mengatakan bahwa kata songket berasal dari songko yang berarti kain penutup kepala yang dihias benang emas. Benang emas yang dipakai pada hiasan kepala itu juga dipakai pada kain tenun.
Banyak istilah lain dari kain songket yang sesuai dengan nama asal daerahnya antara lain Daerah Istimewa Aceh disebut Ija kasap, di Sulawesi Tengah subi kumbaja atau subi sabe, di Sumbawa disebut selungkang. Di dalam penggunaan istilah songket ini banyak dirinci macam-macam bentuk desain yang tampak menurut teknik pembuatannya.

Proses pembuatan
Kerajinan kain songket pada masa dahulu dikerjakan dengan caara tradisional. Cara yang digunakan dalam mengerjakan adalah dengan menggunakan tenaga manusia. Salah satu contoh dari kain songket adalah kain songket batubara. Kerajinan kain songket batubara sejak dahulu dikerjakan dengan metode yang sangat sederhana dan keadaan ini berlangsung hingga saat ini. Bila dibandingkan dengan pembuatan kain dengan menggunakan teknologi maju, pembuatan kain songket batubara masih menggunakan alat-alat produksi dan prosesnya masih sederhana.
Kegiatan kerajinan kain songket Batubara dilaksanakan melalui tahapan-tahapan, seperti: tahapan persiapan, tahapan pembuatan dan tahap akhir. Tahap persiapan meliputi persiapan bahan baku, mencelup atau mencolup, menjemur atau menjomur dan mengani.  Tahap pembuatan meliputi proses menenun atau menonun dan pembuatan motif atau menoto, sedangkan tahap akhir adalah proses mengeluarkan kain yang telah selesai ditenun dari alat tenun. Berikut ini akan diuraikan satu persatu secara rinci:
a. Tahap persiapan
1. Mencelup
Langkah paling awal mempersiapkan bahan baku (benang) dan cairan pencelup warna benang. Sebelumnya benang yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu supaya noda yang melekat pada benang hilang. Bahan yang digunakan dalam proses mencelup ini ialah satu botol kecil zat pewarna, bambu pengaduk dan ember besar tempat pencelupan.
Caranya adalah : setelah air dicampur dengan zat pewarna, kemudian diaduk hingga rata dalam ember besar. Setelah dirasakan cukup rata, maka benang tadi dinasukkan. Kemudian dicelupkan secara berulang-ulang seperti mencuci kain. Selanjutnya benang diangkat dan diperas, kemudian dijemur pada sinar matahari.
2. Menjomur
Tahapan selanjutnya adalah benang yang sudah dicelupkan dijemur pada sinar matahari. Lamanya waktu menjemur tergantung pada sinar matahari. Apabila sinar matahari terik, maka proses penjemuran akan berlangsung singkat jika matahari terik dan bila musim hujan proses penjemuran memakan waktu yang lama. Itulah sebabnya,  sebelum musim hujan para pengrajin sudah harus mempersiapkan bahan bakunya, sehingga ketika musim hujan berlangsung, aktivitas bertenun tidak terkendala.
3. Mengani
Mengani adalah proses menggulung benang pada papan penggulung dengan menggunakan wing. Selanjutnya benang-benang yang sudah di gulung dipindahkan pada kerek-kerek anian, yaitu alat untuk meletakkan benang yang akan segera disusun. Dari karek-karekanian, benang dipindahkan ke dalam  torak, yakni tempat memasukkan benang yang akan ditenun.

b. Menenun
1. menonun
Kegiatan menenun tahapan ini  untuk dapat menghasilkan lembaran kain tenun. Setelah benang dimasukkan ke dalam torak, selanjutnya benang tersebut ditarik ke dalam polonting dengan menggunakan sisir. Dari sini benang tersebut dirapatkan menggunakan gorup, kemudian benang tersebut diturun-naikkan menggunakan karap dan lonting hingga menjadi selembaran kain yang diinginkan si pengrajin.

2.  Menoto
Menoto adalah memberi ragam hias yang direncanakan oleh pengrajin. Ragam hias kain tenun terdiri dari berbagai jenis seperti : pucuk caul, Pucuk pandan, pahat mawar, tabur tampuk berombang, dan sebagainya.
proses menoto adalah sebagai berikut:  benang perak, benang emas atau benang lainnya sebagai bahan baku membuat ragam hias, diletakkan dalam suatu tempat bernama cuban. Kemudian, benang tersebut disungkit, penyungkitan dilakukan ketika barang lungsing direntang-rentangkan rata. Benang yang akan diangkat atau di tarik diberi sisipan lidi. Sisipan lidi ini berfungsi sebagai  tanda yang akan di sisipi benang, sehingga sewaktu bertenun terhindar dari kesalahan.
Jumlah lidi yang disisipkan (sungkitkan) tergantung pada ragam hias yang akan dibuat. Semakin rumit ragam hias yang hendak dibuat, semakin banyak pula lidi-lidi yang akan digunakan.

c. Tahap Akhir
setelah pekerjaan bertenun selesai dilakukan, maka sebagai tahapan akhir ialah mengeluarkan lembaran kain yang telah selesai ditenun. Caranya adalah : lembaran kain yang telah selesai ditenun, ditegangkan dengan menggunakan sumbi. Kemudian setelah kain tersebut dianggap tegang ( tidak kusut ) lalu dikeluarkan dengan menggunakan poso.

Peralatan
Peralatan yang digunakan oleh pengrajin kain songket Batubara dinamakan gedogan atau sering juga disebut rumah tonun. Alat tenun ini terbuat dari kayu, yang bentuknya sederhana, tetapi proses kerjanya relatif rumit.
Peralatan tenun tradisional kain songket batubara, terdiri dari:
  1. Wing dan rahat
Wing adalah alat pennggulung benang. Bentuknya bulat seperti lingkaran terbuat dari papan yang diameternya kira-kira 10 cm digunakan untuk menggulung benang. Sedangkan rahat adalah alat penggulung benang setelah selesai dijemur sehingga benang-benang tersebut tergulung seperti bola.
  1. Anian
Anian adalah sejenis peralatan tenun yang terbuat dari kayu sebagai pemindangan tempat mengatur, menyusun, dan tempat memasang lungsin (bujur-bujur benang pada tenunan). Anian juga dapat disebut sebagai bingkai yang dapat diatur posisi dan dudukannya sesuai dengan ukuran yang dikehendaki pada benang-benang yang akan ditenun
  1. Papan penggulung
Adalah alat dan tempat merentangkan benang yang akan ditenun. Rentangan benang yang akan ditenun melekat pada papan penggulung ini dan sekaligus juga berfungsi untuk memisahkan benang lungsi atas dengan benang lungsi bawah.
  1. Polonting
Polonting terbuat dari sepotong bambu bulat yang berfungsi sebagai gulungan benang, supaya mudah dilemparkan ke kiri atau ke kanan sewaktu menenun.
  1. Torak
Torak terbuat dari bambu atau pipa plastik, yang digunakan sebagai tempat dari polonting, sehingga waktu dilemparkan benang tidak kusut dan tidak mengganggu bennag lungsing.
  1. Belero
Belero adalah alat untun memudahkan si pengrajin membuat motif atau ragam hias dari benang lungsi atau dasar kain tenun. Belero dibuat dari sepotong kayu yang kedua ujungnya lebih kecil dari bagian tengahnya dan tumpul.
  1. Sisir
Sisir adalah alat bantu rentangan benang yang akan ditenun setiap celah jari sisir dilewati oleh helai benang, sehingga bujuran benang menjadi rata dan teratur.
  1. Gorup
Gorup adalah tempat sisir yang berfungsi merapatkan benang yang ditenun. Gorup terdiri dari dua keping kayu, yang bagian atas lebih lebar dari bagian bawahnya dan bentuknya seperti berlidah-lidah.
  1. Karap
Fungsinya hampir sama dengan sisir pemisah benang atas dan benang bawah. Karap ini ada du apasang, masing-masing dapat diturun naikan untuk membuka jalan polonting memasukan benang pakan.
  1. Kuda-kuda
Kuda-kuda adalah alat untuk menggantukan karap. Kuda-kuda ini terdiri dari sepotong kayu berbentuk pipa, masing-masing ujungnya diikatkan pada karap, sementara bagian tengahnya dihubungkan dengan tali.
  1. Lonting (injak-injakan)
Lonting atau injak-injakan adalah alat untuk menurun-naikan karap. Lonting terdiri dari dua batang beroti yang berukuran 3 x 4 cm dengan panjang satu memeter. Beroti dihubungkan dengan karap sehingga ketika beroti diinjak karap akan naik begitu pula sebaliknya.
  1. Lompu/caca
Lompu atau caca adalah alat untuk menggantungkan papan penggulung. Lompi terbuat dari papan yang dilubangi sedemikian rupa sehingga papan penggulung bisa masuk.
  1. Poso
Poso adalah alat untuk menggulung kain yang sudah selesai ditenun. Poso ini terdiri dari sebuah kayu balok yang menjadi tambatan kain yang sudah ditenun dan juga sebagai permulaan bennag yang akan ditenun.
  1. Sumbi
Sumbi adalah alat untuk menegangkan kain tenunan yang telah selesai ditenun. Dalam proses penggunaannya, ujung sumbi yang runcing tersebut ditusukan pada pinggir kain tenun, selanjutnya direntangkan.
  1. Anak kayu
Anak kayu adalah alat untuk penjepit benang yang terdapat pada papan penggulung dengan lompo.
  1. Anak geligin
Adalah gulungan benang yang digunakan sebagai penyusun silangan benang.
  1. Balobas
Balobas adalah alat bantu dalam penyusunan motif atau ragam hias sewaktu bertenun. Fungsinya adalah mengangkat benang bawah ke atas dan sebaliknya, sehingga dapat diselipkan benang yang dijadikan motif.
  1. Cuban
Cuban adalah gulungan benang yang akan dijadikan bahan baku motif tenun batik.


Teknik Devore
Teknik devore yaitu teknik “membakar atau memakan“ serat selulosa pada kain. Sedangkan foiling yaitu teknik memindahkan warna dari foil transfer paper pada kain dengan menggunakan trans ink dan heat press. teknik ini dapat memangkas waktu sehingga pembuatan kain songket tidak memakan waktu yang lama. Selain itu, teknik ini juga tidak terpengaruh oleh keadaan cuaca di Indonesia. Untuk mengaplikasikan teknik devore  sebaiknya digunakan kain yang memiliki serat yang tebal dan kuat. Hal ini dikarenakan bagian yang terbakar akan menjadi rapuh karena strukturnya rusak. Oleh karena itu, lebih baik lagi menggunakan kain pile warp (pakan bertumpuk/pakan ganda) yang tenunnya dasarnya terbuat dari bahan protein dan sintesis, sehingga bagian yang tercabut hanya bagian tambahannya saja contoh kain yang memenuhi kriteria yaitu kain velvet.
Dalam mengerjakan teknik ini pada kain velvet, sebaiknya bagian yang diprint bagian belakangnya. Aplikasi pasta drove pada bagian depan kain mengakibatkan mengakibatkan mootif kain yang dihasilkan tidak merata karena struktur berudu pada kain. Proses heat press  sebaiknya tidak menggunakan strika karena akan menghasilkan motif yang kurang bagus jika sudah jadi, maka dari itu lebih baik menggunakan  heat press.
Proses heat press bisa saja kurang merata karena suhu mesin yang tidak merata. Hal ini terlihat pada saat bila saat pencucian dengan air yang mengalir, terdapat bagian motif devore yang terlepas dan tidak. Apabila terjadi hal demikian, maka pada saat proses pencucian kain perlu di gosok lebih keras sehingga bagia berudu tercabut. Namun, penggosokan yang terlalu keras dapat merobek kain tenun dasarnya. Oleh karena itu, proses ini harus dilakukan dengan hati-hati.
Pada proses pewarnaan lebih baik dilakukan setelah proses devore selesai. Hal ini dikarenakan proses devore harus melalui tahap pencucian. Apabila proses devore  dilakukan setelah proses pewarnaan, ada kemungkinan warna akan luntur karena proses pencucian yang dilakukan berulang kali.
Adapun proses produksi teknik ini adalah sebagai berikut:
  1. Langkah pertama menyiapkan alat dan bahan. Karya ini dibuat dalam bentuk kain berukuran kurang lebih 180 x 60 cm (ukuran kain dapat disesuaikan sesuai ukuran yang ingin dibuat). Untuk itu, diperlukan screen yang cukup besar supaya pekerjaan dapat dilakukan dengan efisien.
  2. Selanjutnya, motif dicetak dengan teknik screen printing pada bagian belakang kain. Setelah kering, dilakukan proses  heat press dengan suhu 160ᴼ selama 10 detik.
  3. Setelah itu, kain dicuci dengan tangan supaya beludru pada kain terlepas hingga membentuk motif yang diinginkan. Dalam proses pencucian disarankan menggunakan sarung tangan karet supaya tidak terjadi iritasi.
  4. Setelah mendapatkan motif yang sesuai, kain diwarnai dengan pewarna procion. Kain dapat diwarnai dengan teknik celup maupun teknik usap menggunakan spons.
  5. Setelah kain kering, dilakukan proses foiling, yaitu dengan membubuhkan transfer ink pada bagian kain yang diinginkan menggunakan kuas. Setelah mengering, foil transfer paper  diletakkan pada bagian tersebut dengan bagian berwarna pada bagian atas, dan lakukan proses heat press menggunakan heat press dengan suhu 160ᴼ selama 10 detik.


Kelebihan dan kelemahan pembuatan dengan alat tradisional
Kelebihan :
  1. Motif yang dihasilkan dapat berbeda-beda. Hal ini disebabkan setiap pengrajin kain songket mempunyai motifnya tersendiri.
  2. Tidak mencemari lingkungan. Karena, proses pewarnaan yang dilakukan masih menggunakan bahan-bahan yang tersedia dialam.

Kekurangan :
  1. Proses pembuatan membutuhkan waktu yang lama. Hal ini disebabkan lamanya menunggu pengeringan pada proses pewarnaan, penggulungan benang dan yang lainnya.
  2. Harga kain songket yang relatif mahal. Hal ini disebabkan karena untuk mengganti biaya waktu yang dikeluarkan pengrajin, dan juga proses kerumitan kain songket.
  3. Kain yang dihasilkan cenderung berat dan kaku. Karena kain yang digunakan memiliki karakteristik yang berat dan kaku.

Kelebihan dan kelemahan pembuatan dengan teknik devore
Kelebihan:
  1. Proses pembuatan lebih cepat. Karena tidak memerlukan proses menenun terlebih dahulu dan langsung menuju proses pencetakan dan proses pewarnaan.
  2. Kain yang dihasilkan cenderung lebih ringan. Hal ini disebabkan karakteristik kain velvet yang digunakan memiliki karakteristik yang kuat namun ringan saat dipakai.
  3. Tidak terpengaruh oleh musim. Karena pada saat proses pengeringan dapat dilakukan dengan membeli warna kain yang sudah diinginkan.
Kelemahan:
  1. Dapat mencemari lingkungan, Karena hasil dari limbah pewarnaan.
  2. Harus memiliki modal yang lebih besar. Karena harus membeli peralatan yang dibutuhkan seperti mesin heat press, printing dan yang lainnya.

BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan
Dari paparan diatas , maka penulis dapat menyimpulkan bahwa sesuai dengan makalah “Moderenisasi Kain Songket” penulis menyimpulkan bahwa teknik devore sangat cocok untuk diterapkan dalam pembuatan kain songket. Hal ini karena teknik devore dapat mempersingkat waktu pembuatan kain songket yang tadinya berbulan-bulan sekarang hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari satu bulan saja. Selain itu penggunaan teknik devore juga dapat memproduksi kain songket secara massal. Sehingga dapat mencakup pasar global untuk bersaing dipasaran yang tadinya hanya mengandalkan pasar lokal saja. Dan yang terakhir penggunaan teknik devore pada kain velvet dapat menghasilkan kain yang memiliki tekstur yang lembut, ringan, dan tetap memancarkan kesan mewah pada kain songket.

Saran
Berdasarkan Pembahasan dan Kesimpulan tersebut, maka di sini penulis ingin menyampaikan beberapa saran. Pertama, perlunya sosialisasi penggunaan teknik devore kepada pengrajin sehingga para pengrajin dapat menhemat waktu pembuatan kain songket. Kedua, perlunya pemberian modal kepada pengrajin untuk membeli alat-alat seperti heat press, digital printing dan alat yang lainnya. Dan yang terakhir yaitu mendukung pengrajin dengan cara membuka peluang pasar baik itu pasar lokal maupun pasar global.





Daftar pustaka

DRS. Irwansyah, DRS. Tanjung Syaiful A, DRS. Simanjutak J, DRS. Rahman Abdul, DRS. Lubis Syahrudin,   DRS. Siagian Wilson. 1992. Kerajinan Tradisional Kain Songket Batubara. Sumatera Utara: Debdikbud.

Kartiwa Suwati. 1996. Kain Songket Indonesia. Jakarta : Djambatan.

Putra Herry Rizki Muhammad. Aplikasi Motif Songket Dengan Teknik Devore Untuk Produk Tekstil. Bandung : Jurnal Senirupa dan Desain.

Devi Silvia. 2015.  Sejarah dan Nilai Songket Pandai Sikek. Sumatera Barat: Jurnal Ilmu Sosial.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Buku Bentrokan dalam Asrama karya Achdiat K. Mihardja

Haloo semua... kali ini saya ingin menganalisis buku yang sangat menarik yaitu Bentrokan dalam Asrama karya Achdiat K. Mihardja. tanpa basa-basi kita langsung menganalisis buku ini, Tema Tarigan berpendapat bahwa tema adalah pandangan dunia tertentu tentang kehidupan atau satu set tertentu dari nilai-nilai yang membentuk atau membangun atau gagasan utama dari karya sastra . (1993:125). . Novel Bentrokan dalam Asrama karya Achdiat K. Mihardja bertemakan persilisihan karena novel ini menceritakan tiga anak muda dalam asrama yang berbeda-beda watak dan tabiatnya sehingga timbul bentrokan-bentrokan yang sengit, tetapi membuat mereka lebih tegas dan saling mengerti.   Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut : “Anas dan Hadi bergiliran memindahkan anak caturnya, bergiliran pula merenung. Dan kalau Anas lama berfikir lama, maka dibentaklah oleh Hadi “Hai, ngantuk lu! Giliranmu!” ( p.5 , hal.9) “ Dan sekilat itu juga, ia bangkit, membanting ku...

ilmu sosial dasar

MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR “PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT” DAN “MASYARAKAT PERKOTAAN DAN MASYARAKAT PEDESAAN” DISUSUN OLEH : ALIFURROHMAN ANISHA DWI RAHMADHANTI BELLINDA AYUSTINA DANDY ALFIANDI DICKY NUR AZIZIE HAIDAR RAHMAN MUSTAFA KAMAL ALY SYAFIRA FEBRIANTY TUBAGUS RIFALDI JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA Kata pengantar Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Pelapisan sosial dan kesamaan derajat.           Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontrib...

Manfaat Olahraga bagi Kesehatan Mental

Olahraga   selain memiliki manfaat bagi tubuh kita, ternyata olahraga bermanfaat bagi kesehatan mental kita lhoo, gak percaya?, ini buktinya: 1.     Olahraga dapat mengurangi stress Pasti setiap dari kita pernah mengalami stress yang disebabkan oleh masalah pekerjaan, masalah perkuliahan, masalah dengan pasangan (bagi kalian yang jomblo mungkin tidak hahaha ) dan sebagainya. Terus kok bisa olahraga dapat mengurangi stress? Jawabannya ialah saat jantung Anda bekerja pada saat berolahraga, maka otomatis konsentrasi pikiran tidak akan terfokus pada urusan yang membuat Anda stres. Selain dapat mengalihkan pikiran, manfaat olahraga seperti aerobik juga dapat meningkatkan ketahanan  kardiovaskular , sehingga nantinya Anda dapat bersikap tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi suatu masalah. 2.     Olahraga dapat meningkatkan kekuatan otak Kok bisa ya olahraga dapat meningkatkan kekuatan otak? Hal ini dikarenakan tubuh memompa lebih banyak d...