Langsung ke konten utama

Analisis Buku Bentrokan dalam Asrama karya Achdiat K. Mihardja

Haloo semua... kali ini saya ingin menganalisis buku yang sangat menarik yaitu Bentrokan dalam Asrama karya Achdiat K. Mihardja. tanpa basa-basi kita langsung menganalisis buku ini,


Tema
Tarigan berpendapat bahwa tema adalah pandangan dunia tertentu tentang kehidupan atau satu set tertentu dari nilai-nilai yang membentuk atau membangun atau gagasan utama dari karya sastra. (1993:125)..
Novel Bentrokan dalam Asrama karya Achdiat K. Mihardja bertemakan persilisihan karena novel ini menceritakan tiga anak muda dalam asrama yang berbeda-beda watak dan tabiatnya sehingga timbul bentrokan-bentrokan yang sengit, tetapi membuat mereka lebih tegas dan saling mengerti.
 Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Anas dan Hadi bergiliran memindahkan anak caturnya, bergiliran pula merenung. Dan kalau Anas lama berfikir lama, maka dibentaklah oleh Hadi “Hai, ngantuk lu! Giliranmu!” ( p.5 , hal.9)
“ Dan sekilat itu juga, ia bangkit, membanting kursinya jungkel balik, lalu bergegas memburu Anas, dipegangnya Anas pada batang lehernya, diseretnya ke tengan, dibanting ke samping. Anas terpelanting. Hampir jatuh. Plak! Anas ditempelengnya satu kali. Mengaduh sebentar. Pipinya yang kiri ditutupi dengan tangannya. Kaget. Tapi sebentar kemudian dengan tegak ia menentang wajah Hadi, dan dengan suara yang tajam mencela, “kenapa kau menampar? Salah apa aku?” (p.2, hal.16)
“Makin lama makin keras Hasan tertawa. Makin lebar. Tapi terdengar tertawanya itu dibikin-bikin. Dibikin-bikin untuk membikin Hadi panas hatinya. Tapi Hadi malah membentak, “Kau gila, Hasan! Kenapa kau ketawa? Apa yang harus diketawakan. Aku tidak mengerti.” (p.1, hal.19)
“Hadi mengigit bibir. Mukanya masam. Tunduk ke lantai. Berpikir-pikir, dan sekali-kali tinjunya yang kanan meninju-ninju telapak tangannya yang kiri. Sebentar kemudian Hasan memegang Hadi pada lengannya, “tidakkan perlu kalau kita membalas dendam kepada si Anas itu?” (p.5, hal.20)
“Tiba-tiba terdengar suara Hadi mengguntur, “Penghianat! Kau penghianat! Kau telah mengadu sama pak Yoso.” Mendengar itu Anas menjadi sangat kaget. Tercengang-cengan ia. Dan Hadi membentak-bentak terus, menunjuk-nunjuk ke dalam mukanya, sehingga Anas mesti munduk beberapa langkah. (p.6, hal.25)

Tokoh dan Penokohan
Menurut Aminudin tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.(2002: 79)
Novel Bentrokan dalam Asrama karya Achdiat K.Mihardja memiliki tokoh diantaranya :
Anas       : siswa SMP berumur 14 tahun yang selalu ditindas dan dibenci oleh teman seasramanya padahal tidak melakukan kesalahan.

“Anas dan Hadi bergiliran memindahkan anak caturnya, bergiliran pula merenung. Dan kalau Anas lama berpikir, maka dibentak oleh Hadi, ‘Hai, ngantuk lu! Giliranmu!’” (p. 5, hal. 9)
“Dan bukan main catur saja ia suka licik, tahu, tapi dalam segala hal. Kau tentu tahu juga, Hadi. Betul tidak?” (p. 2, hal. 12)
“‘Tahu apa katanya kepada kawan-kawan? Katanya: si Hadi itu persis seperti kerbau: badan besar, kuat tegap, tapi bodoh. Haha!’” (p. 9, hal. 12)
“Lekas Hasan pura-pura berbisik ke dalam telinga Hadi, tapi suaranya setengah keras, ‘Lihatlah betapa megahnya ia, betapa angkuhnya! Seorang jendral yang menang perang menengok musuhnya yang sudah menjadi bangkai.’” (p. 7, hal. 14)
“‘Aku tidak mau pigi! Aku tidak punya dosa apa-apa!’” (p. 3, hal. 16)

Hadi                : siswa SMP berumur 16 tahun yang semula berteman dengan Anas, namun akhirnya terpengaruh oleh Hasan untuk membenci Anas.

“Hadi melotot, ‘Kurang ajar! Betul dia bilang begitu? Betul Hasan?!’” (p. 10, hal. 12)
“Hadi makin merengut. Mukanya merah kelabu. Giginya menggigit
potlot. Mengepalkan tinjunya semakin kuat.” (p. 3, hal. 14)
“Mendengar itu Hadi seakan-akan sudah tak tahan lagi. Yang selama itu diam saja, kini tiba-tiba meletus dengan suara mengguntur, ‘Aku bukan bangkai! Aku bukan bangkai! Setan!’’ (p. 8, hal. 14)
“Ah, jangan banyak omong kau! Mau tempeleng satu kali lagi?! Pigi lu!” (p. 2, hal. 16)
“Ah omong kosong!” (p. 14, hal. 16)

Hasan                        : siswa SMP berumur 15 tahun yang suka mengadu domba.

“Dan bukan main catur saja ia suka licik, tahu, tapi dalam segala hal. Kau tentu tahu juga, Hadi. Betul tidak?” (p. 2, hal. 12)
“‘Tahu apa katanya kepada kawan-kawan? Katanya: si Hadi itu persis seperti kerbau: badan besar, kuat tegap, tapi bodoh. Haha!’” (p. 9, hal. 12)
“Lekas Hasan pura-pura berbisik ke dalam telinga Hadi, tapi suaranya setengah keras, ‘Lihatlah betapa megahnya ia, betapa angkuhnya! Seorang jendral yang menang perang menengok musuhnya yang sudah menjadi bangkai.’” (p. 7, hal. 14)
“Ia tertawa lebar, tapi Hadi merengut terus. Kemudian Hasan menariknya supaya duduk di atas kursi, tapi Hadi tidak duduk di atas kursi yang di kisarkan oleh Hasan, melainkan di atas meja, tempat tadi main catur.” (p. 5, hal. 17)
“‘Itu tidak benar. Si Anas yang salah. Di sini terbukti lagi betapa cerdiknya, liciknya, busuknya si Anas.’” (p. 5, hal. 18)

Pak Yoso       : seorang direktur asrama yang berumur 45 tahun. Sifatnya tegas, baik, dan perhatian.

“Mata Pak Yoso menyusur dari wajah Hadi ke wajah Anas. Kemudian ke wajah Hasan, singgah dulu kepada anak-anak catur yang berserakan di atas lantai dan pada akhirnya menancap tajam di atas wajah hadi.” (p. 6, hal. 27)
“Mendengar itu Pak Yoso merengut kembali. Dan dengan suara tajam mencela ia menghardik …” (p. 3, hal. 30)
“Dan setelah menciprat-cipratkan lagi ujung cangkloknya untuk kesekian kalinya, ia berkata terus, ‘Yang salah kan harus di hukum. Itu kan sudah semestinya. Itu hukum hidup.’” (p. 5, hal. 32)
“‘Apa alasan itu?’ tanya Pak Yoso, mengorek-ngorek cangkloknya.” (p. 3, hal. 32)
“Maka bertanya Pak Yoso dengan suara lembut, ‘Ayahmu meninggal?’” (p.2, hal. 33)

Amat               : pelayan asrama yang berumur 20 tahun. Ia seorang yang amanah, baik, jujur, dan sederhana.

“Sehelai serbet terselampai di atas bahunya. Ia memakai baju piyama yang terlalu landung, rupanya dikasih orang atau dari tukang loak.” (p. 9, hal. 22)
“Kata Amat, ‘Tidak ada Den Hadi?’” (p. 1, hal. 23)
“‘Diminta datang oleh Pak Yoso.’” (p. 3, hal. 23)
“Amat membenar-benarkan letak picinya. Gisik-gisik sebentar, kemudian gagap-gagap katanya. ‘Eh … eh … dari … dari saya. Sa … sssaya mengadu.’” (p. 6, hal. 28)
“Dan tangan Amat bergerak-gerak, mau banyak berbicara, tapi sukar.” (p. 7, hal. 28)

Tini                 : kakak Hadi yang berumur 18 tahun. Ia bersifat penyayang, baik, dan feminin.
“Gadis itu memakai rok dan kemeja. Roknya latar hijau berbunga-bunga kuning dan merah.” (p. 7, hal. 32)
 “Dan pada lehernya berbelit sebuah kalung merah tua.” (p. 8, hal. 32)
“Tini merangkum kedua belah tangan Hadi makin keras ia menangis tersedu-sedu.” (p. 9, hal. 32)

Alur dan Pengaluran
Tahap pengaluran
1.    Orientasi
2.    Pemunculan konflik
3.    Komplikasi
4.    Antiklimaks
5.    Koda
Aminuddin berpendapat bahwa alur merupakan rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa, sehingga dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.(1987:83). SedangkanMenurut AtarSemi alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interelasi fugsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. (1988:43-46).Alur adalah pola pengembangan cerita yang terbentuk karena hubungan sebab-akibat.
Buku Bentrokan dalam Asrama ini menggunakan alur renggang, sedangkan pengaluran novel ini progresif karena cerita dimulai dari tahap pengenalan, pemunculan konflik, klimaks, antiklimaks dan koda.
Tahap pengenalan novel ini dapat dilihat dari kutipan berikut
“… Disebelah kiri dekat dinding depan sebuah meja kecil duduk seorang anak muda, Hasan. Dia menghadap ke tengah ruangan. Asyik menulis. Sebentar – sebentar penanya dicelupkan kedalam tinta, dan sebentar – sebentar pula menyapu rambutnya kebelakang. Umurnya kira –kira 15 tahun. Rambutnya panjang, kulit mukanya kuning berbintik – bintik penuh dengan jerawat, matanya sipit. Badan kurus.” (p.1, hal 9)
“… Yang seorang rambutnya keriting. Badannya tegap, kuat, sehat. Umurnya hampir 16 tahun. Hadi namanya.” (p.2, hal 9)
“Berlainan sekali badan yang sedang dihadapinya. Lemah sekali nampaknya, pucat, kecil, sakit – sakit. Anas nama anak muda itu. Kira – kira 14 tahun lebih. Ia berkacamata.” (p.3, hal 9)
“… Pak Yoso nampaknya setengah tua. Mukanya lonjong. Kulit mukanya kasar, penuh bisul – bisul kecil. Rambutnya sudah beruban tiga perempat. Bibir tebal, menggigit sebuah cangklok yang panjang.” (p.5, hal 27)
“Tapi pada saat itu masuklah Amat, seorang pesuruh asrama. Kumisnya hitam melintang diatas bibirnya sebesar potlot…” (p.9, hal 22)
Tahap pemunculan konflik dapat dilihat dari kutipan berikut
“Dan bukan main catur saja ia suka licik, tahu, tapi dalam segala hal. Kau tentu tahu juga, Hadi. Betul tidak?” (p. 2, hal. 12)
“‘Tahu apa katanya kepada kawan-kawan? Katanya: si Hadi itu persis seperti kerbau: badan besar, kuat tegap, tapi bodoh. Haha!’” (p. 9, hal. 12)
Hadi melotot, ‘Kurang ajar! Betul dia bilang begitu? Betul Hasan?!’” (p. 10, hal. 12)
“Hadi makin merengut. Mukanya merah kelabu. Giginya menggigit
potlot. Mengepalkan tinjunya semakin kuat.” (p. 3, hal. 14)
“Mendengar itu Hadi seakan-akan sudah tak tahan lagi. Yang selama itu diam saja, kini tiba-tiba meletus dengan suara mengguntur, ‘Aku bukan bangkai! Aku bukan bangkai! Setan!’’ (p. 8, hal. 14)
Tahap komplikasi dapat dilihat dari kutipan berikut
“Lekas Hasan pura-pura berbisik ke dalam telinga Hadi, tapi suaranya setengah keras, ‘Lihatlah betapa megahnya ia, betapa angkuhnya! Seorang jendral yang menang perang menengok musuhnya yang sudah menjadi bangkai.’” (p. 7, hal. 14)
“Hadi melotot, ‘Kurang ajar! Betul dia bilang begitu? Betul Hasan?!’” (p. 10, hal. 12)
“Hadi makin merengut. Mukanya merah kelabu. Giginya menggigit
potlot. Mengepalkan tinjunya semakin kuat.” (p. 3, hal. 14)
“Mendengar itu Hadi seakan-akan sudah tak tahan lagi. Yang selama itu diam saja, kini tiba-tiba meletus dengan suara mengguntur, ‘Aku bukan bangkai! Aku bukan bangkai! Setan!’’ (p. 8, hal. 14)
Tahap antiklimaks dapat dibuktikan pada kutipan berikut

“Mata Pak Yoso menyusur dari wajah Hadi ke wajah Anas. Kemudian ke wajah Hasan, singgah dulu kepada anak-anak catur yang berserakan di atas lantai dan pada akhirnya menancap tajam di atas wajah hadi.” (p. 6, hal. 27)
“Mendengar itu Pak Yoso merengut kembali. Dan dengan suara tajam mencela ia menghardik …” (p. 3, hal. 30)
“Dan setelah menciprat-cipratkan lagi ujung cangkloknya untuk kesekian kalinya, ia berkata terus, ‘Yang salah kan harus di hukum. Itu kan sudah semestinya. Itu hukum hidup.’” (p. 5, hal. 32)
“‘Apa alasan itu?’ tanya Pak Yoso, mengorek-ngorek cangkloknya.” (p. 3, hal. 32)
“Maka bertanya Pak Yoso dengan suara lembut, ‘Ayahmu meninggal?’” (p.2, hal. 33)
Tahap Koda dapat dibuktikan pada kutipan berikut
            “’Ahh tidak! Tidak usah!’” (p.11 hal 36)
“’Bagaimana mungkin saya bisa melupakan peristiwa yang menyesalkan hati saya itu?’” (p.14 hal 36)
“Pada akhirnya Anas mau juga menerima ‘baik, saya terima.tapi tentu saja harga arloji ini tidak seimbang dengan harga kaca sebelah untuk kacamataku ini.” (p.1 hal 37)
“Pak Yoso terharu mendengar ucapan Hadi yang tegas itu.” (p.8 hal 37)
“Hadi menoleh dengan senyum sedikit. Mereka keluar.” (p.6 hal 38)

Latar
Menurut pendapat Aminuddin, yang dimaksud dengan setting/latar adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
Latar dalam buku ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut
 “Hadi melotot, ‘Kurang ajar! Betul dia bilang begitu? Betul Hasan?!’” (p. 10, hal. 12)
“Hadi makin merengut. Mukanya merah kelabu. Giginya menggigit
potlot. Mengepalkan tinjunya semakin kuat.” (p. 3, hal. 14)
“Mendengar itu Hadi seakan-akan sudah tak tahan lagi. Yang selama itu diam saja, kini tiba-tiba meletus dengan suara mengguntur, ‘Aku bukan bangkai! Aku bukan bangkai! Setan!’’ (p. 8, hal. 14)
“Maka bertanya Pak Yoso dengan suara lembut, ‘Ayahmu meninggal?’” (p.2, hal. 33)
“’Bagaimana mungkin saya bisa melupakan peristiwa yang menyesalkan hati saya itu?’” (p.14 hal 36)

Amanat
Menurut Nurgiyanto amanat merupakan unsur isi dalam karya fiksi yang mengacu pada nilai-nilai, sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan yang dihadirkan pengarang melalui tokoh-tokoh di dalamnya. (2009: 321).
 Buku Bentrokan dalam Asrama karya Achdiat K. Mihardja beramanatkan kita tidak boleh terpengaruh untuk membenci orang tanpa tahu kesalahannya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini
“’Bagaimana mungkin saya bisa melupakan peristiwa yang menyesalkan hati saya itu?’” (p.14 hal 36)
“Pada akhirnya Anas mau juga menerima ‘baik, saya terima.tapi tentu saja harga arloji ini tidak seimbang dengan harga kaca sebelah untuk kacamataku ini.” (p.1 hal 37)
“’Dosaku tak tertembus dengan sepuluh arloji. Dan kebaikan budimu tak terbeli dengan lebih dari itu.” (p.4 hal 37)
“’Baiklah peristiwa ini kita lupakan mulai kini.’” (p.5 hal 37)
“Pak Yoso terharu mendengar ucapan Hadi yang tegas itu.” (p.9 hal 37)
Daftar Pustaka
Mihardja, Achdiat K. 1993. Bentrokan Dalam Asrama, Jakarta: Balai Pusaka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ilmu sosial dasar

MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR “PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT” DAN “MASYARAKAT PERKOTAAN DAN MASYARAKAT PEDESAAN” DISUSUN OLEH : ALIFURROHMAN ANISHA DWI RAHMADHANTI BELLINDA AYUSTINA DANDY ALFIANDI DICKY NUR AZIZIE HAIDAR RAHMAN MUSTAFA KAMAL ALY SYAFIRA FEBRIANTY TUBAGUS RIFALDI JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA Kata pengantar Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Pelapisan sosial dan kesamaan derajat.           Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontrib...

Manfaat Olahraga bagi Kesehatan Mental

Olahraga   selain memiliki manfaat bagi tubuh kita, ternyata olahraga bermanfaat bagi kesehatan mental kita lhoo, gak percaya?, ini buktinya: 1.     Olahraga dapat mengurangi stress Pasti setiap dari kita pernah mengalami stress yang disebabkan oleh masalah pekerjaan, masalah perkuliahan, masalah dengan pasangan (bagi kalian yang jomblo mungkin tidak hahaha ) dan sebagainya. Terus kok bisa olahraga dapat mengurangi stress? Jawabannya ialah saat jantung Anda bekerja pada saat berolahraga, maka otomatis konsentrasi pikiran tidak akan terfokus pada urusan yang membuat Anda stres. Selain dapat mengalihkan pikiran, manfaat olahraga seperti aerobik juga dapat meningkatkan ketahanan  kardiovaskular , sehingga nantinya Anda dapat bersikap tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi suatu masalah. 2.     Olahraga dapat meningkatkan kekuatan otak Kok bisa ya olahraga dapat meningkatkan kekuatan otak? Hal ini dikarenakan tubuh memompa lebih banyak d...